Judul Buku: Write Me His Story
Penulis : Ary Nilandari
Penerbit: Pastel Books
Tahun Terbit: 2018
Penyunting: Prisca Primasari dan Rangga Saputra
Jumlah Halaman: 452 hlm
ISBN: 978-602-6716-40-8
"Wynter, kamu bukan enggak bisa lepas dari enam perempuan itu. Kamu justru sedang berjuang untuk masukin lagi mereka ke dalam hidup kamu. Tapi, mereka ninggalin kamu. Pelan-pelan tapi pasti, semuanya menjauh kamu nyaris frustrasi ...." (halaman 28)
Setiap orang punya lukanya masing-masing. Salah satunya Wynter Mahardika, sang tokoh utama dalam buku WMHS karya bunda Ary Nilandary. Wynter seorang anak laki-laki yang terjebak Mother issues, dirinya terluka karena cintanya sebagai anak laki-laki pada perempuan yang melahirkannya bertepuk sebelah tangan. Cintanya terabaikan sampai membuat ia membenci makhluk berjenis perempuan. Menurutnya cinta perempuan itu kayak asap, mudah buyar terbawa angin.
Sampai datang Wynn Maharesi adik kelas Wynter. Wynn menawarkan kebahagiaan untuk Wynter, Wynn dengan yakin akan membantu mengembalikan keenam perempuan itu pada hidup Wynter dengan syarat Wynter harus menjadi pengganti WMHS. Sebelumnya Wynter tidak pernah menulis buku harian, dengan penuh pertimbangan Wynter menerima tawaran Wynn. Meski sempat tak disambut Hya, sahabat Wynn.
Hya dan Wynn sudah bersahabat sejak kecil, bahkan mereka berdualah yang menggagas adanya WMHS. Keduanya senang menulis berdua dalam satu buku secara bergantian, saling menceritakan hal-hal yang dirasakan satu sama lain.
Hya si spoiler akut, tidak disarankan berteman dengan Hya jika tidak senang spoiler. Dan Wynn si pendengar yang baik, mendengarkan apapun yang Hya keluhkan, menerima spoiler-an Hya tentang film yang ingin Wynn tonton sendiri dan hal lainnya tentang Hya. Bagi Wynn, Hya sahabat yang paling disayanginya.
Wynter tidak percaya bahwa ada persahabatan antara perempuan dan laki-laki tanpa melibatkan perasaan. Karena ia sendiri pelakunya, tapi tidak terkecuali Wynn dan Hya mereka yang membuat Wynter percaya bahwa ada persahabatan antara perempuan dan laki-laki yang benar-benar tulus tanpa melibatkan perasaan.
Ini adalah buku kedua karya Ary Nilandary yang saya baca setelah sebelumnya saya membaca buku "Negeri di Bawah Air". Buku ini direkomendasikan oleh teman saya, kata teman saya "Bukunya bagus, ceritanya rame. Apalagi Hya sama Wynter bikin baper sendiri, bagian yang paling aku suka itu bagian Bawal Gosong. Cobain deh baca" yaya itu kata teman saya. Sebetulnya saya sama kayak Hya hehe sama-sama suka spoiler. Sebelumnya saya sempat meminta temanku untuk menceritakan terlebih dahulu bagaimana isi ceritanya. Tapi bagaimanapun saya merayunya ia tetap teguh pada pendiriannya katanya sih biar menjadi kejutan.
Dan Hanni (teman yang merekomendasikan buku) benar, bukunya penuh dengan kejutan. Diawal aku mengira akan ada adegan perebutan cinta segitiga antara Wynter-Hya-Wynn tapi ternyata... diluar dugaan. Ini hanya cerita tentang persahabatan yang tulus, bersama menyembuhkan luka, dan bersama mengukir bahagia.
"Play the moment. Record the happines. Pause the fear. Stop the pain. Rewind the memories"-Hya (hal:265)
Perasaan saya ditarik ulur, terharu, bahagia, sedih, ikhlas, kecewa, marah semuanya tercampur menjadi satu dalam buku ini. Selain ceritanya yang memberikan kejutan juga cara penceritaan penulisnya santai, hadir dengan kata-kata yang mudah dicerna. Alurnya juga tidak terkesan lambat, membaca sebanyak 452 halaman terasa membaca 10 halaman.
Banyak pelajaran yang bisa saya ambil dari buku ini, orang tua yang harus bisa mengerti perasaan anaknya, kita yang harus membuka mata lebih lebar lagi agar bisa melihat banyak orang yang sebenarnya peduli dan sayang, hanya saja kita terlalu enggan membuka mata. Persahabatan yang tulus juga menjalin ikatan keluarga yang baik menjadikan hidup lebih terasa bermakna. Kamu tidak sendirian.
Quetos Favorit:
"Momen itu bukan ditunggu, tapi harus diciptakan dan dinikmati. Kalau sudah lewat enggak bisa diputar ulang, kecuali kenangannya"- Wynn Maharesi (hal:255)"Momen paling bahagia itu saat kamu bisa lepasin hal yang enggak bisa kamu ubah. Let it go" Wynn Maharesi (hal:255


Komentar
Posting Komentar