Langsung ke konten utama

Menghilangkan Stigma Negatif, Pilih Gap Year Berarti Gagal

(iteba.ac.id)
(iteba.ac.id)


Setiap tahun menjelang akhir dari tahun ajaran di sekolah menengah atas baik SMA, SMK maupun MA banyak siswa yang masih kebingungan untuk menentukan langkah berikutnya yang harus diambil, memilih antara terjun ke dunia kerja atau mendaftarkan diri pada sebuah perguruan tinggi.

Tak jarang dari mereka juga membuat pilihan gegabah untuk menentukan keputusan besar dalam hidupnya yang berakhir dengan penyesalan.

Sebagai contoh karena kurangnya persiapan untuk menembus perguruan tinggi yang diharapkan membuat 800 ribu peserta UTBK pada tahun 2022 gagal menjadi mahasiswa, kesempatan dalam mencari pekerjaan yang hanya bermodalkan ijazah lulusan sekolah menengah tanpa pengalaman yang memadai berakhir dengan menganggur juga sudah banyak terjadi karena semakin sedikitnya lapangan pekerjaan yang tersedia untuk lulusan sekolah menengah.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, tak jarang dari kalangan anak muda mengambil jeda waktu istirahat supaya dapat memikirkan serta mempersiapkan langkah selanjutnya setelah lulus dari sekolah dan itulah yang dimaksud dengan gap year.

Sebenarnya gap year bukanlah hal yang sesimpel itu, seseorang yang merasa tidak sesuai dengan jurusan kuliahnya sekarang, orang-orang yang gagal meraih perguruan tinggi impian dan ingin mencoba lagi, pekerja yang merasa masih kekurangan pengetahuan dalam pekerjaannya atau orang-orang yang memiliki keterbatasan finansial untuk melanjutkan pendidikan juga dapat melakukan gap year.

Namun, dalam konteks seorang yang kebingungan memilih langkah selanjutnya, gap year merupakan pilihan yang sukar dipilih. Stigma negatif dari orang-orang sekitar menjadi alasan utama tidak melakukan gap year, ketakutan mengenai pendapat orang lain terhadap dirinya membuat seseorang gegebah dalam pengambilan keputusan.

Pada kenyataannya gap year tidaklah semenakutkan dengan apa yang dibayangkan, gap year  merupakan jeda waktu istirahat yang dijadikan sebagai kesempatan baik untuk menentukan pilihan yang terasa tepat, selaras dan benar. Dalam masa-masa gap year, banyak hal baik yang dapat dilakukan selain memikirkan pendapat buruk orang lain.

Mempersiapkan diri untuk masuk perguruan tinggi adalah hal yang jelas banyak dilakukan orang-orang ketika menjalani gap year. Akan tetapi, selain dari itu, gap year juga dapat diisi dengan kegiatan lain seperti mengenal diri lebih baik, merencanakan masa depan dengan lebih jelas dan tertata, mencoba dan menemukan hal-hal baru, baik dalam bidang akademik maupun non-akademik. Selain itu, dapat pula diisi dengan cara lebih mendekatkan diri pada Tuhan dan keluarga, membangun relasi dengan teman-teman satu visi lainnya atau mencari pekerjaan paruh waktu agar dapat menambah uang saku.

Seseorang yang diharuskan untuk mengalami gap year juga perlu sadar bahwa hal tersebut bukanlah sesuatu yang buruk. Membuat pilihan untuk menjalani gap year tidaklah sama dengan sebuah kegagalan, pada dasarnya memilih langkah untuk menjalani gap year adalah salah satu cara jitu dalam mengenal diri dengan lebih baik agar persiapan dalam menetukan langkah selanjutnya dapat menjadi lebih bijak dan sepenuh hati.

Terlepas dari pandangan-pandangan buruk orang lain mengenai gap year, memilih untuk memiliki jeda waktu dalam proses melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi bukanlah suatu keputusan yang mudah, memilih untuk gap year bukan berarti juga gagal pada awalnya. Banyak hal yang dapat dilakukan untuk mengisi waktu jeda yang ditempuh setelah lulus dari sekolah menengah. Sebagai cerminan, ada lebih dari satu tokoh terkenal yang tidak menyesali keputusannya dalam menjalani gap year di antaranya adalah Maudy Ayunda (selebriti) dan Zahid Ibrahim (YouTuber). Pada intinya, memilih gap year bukan berarti memilih sebuah kegagalan, melainkan sebuah keputusan bijak dalam mempersiapkan diri menjadi lebih baik.

 

 

Ditulis oleh: Chei Milki Nugraha K


Komentar

Postingan populer dari blog ini

10 Kutipan Inspiratif Tentang Menulis

Menulis adalah suatu kegiatan berkomunikasi yang berupa sebuah penyampaian pesan yang berisi informasi secara tertulis dengan menggunakan bahasa tulis sebagai media tempat menuangkan atau mengungkapakan sebuah sebuah gagasan dan pikiran yang dimilikinya. Atau menulis adalah sebuah proses kreatif untuk menuangkan gagasan dan pikiran dalam bentuk sebuah bahasa tulis dengan tujuan, seperti memberitahu, menghibur, dan meyakinkan (Dalman, 2014:2-3), dikutip dari https://repository.umpri.ac.id . Menulis adalah kegiatan reflektif yang membantu untuk menuangkan pikiran kreatif sipenulis dalam bentuk tulisan, baik tulisan ilmiah, fiksi, prosa, artikel, cerpen dan bentuk tulisan lainnya. Di sini akan disajikan beberapa kutipan inspiratif tentang menulis ilmu 1.     “menulis adalah cara kita berbicara dengan diri sendiri, dan membaca adalah cara kita mendengarkan diri kita sendiri” – Jose Saramago   2.     “Menulis adalah cara un...